Agustus 13, 2022

Villa Ming

Travel & Wisata

Itinerary 3 Hari 2 Malam di Bali, Mampir Kintamani dan Ubud

5 min read

KOMPAS.com – Bali adalah salah satu destinasi wisata yang kerap dikunjungi oleh wisatawan untuk melepas penat.

Bagi wisatawan yang tak punya bujet terlalu banyak, berikut rencana perjalanan atau rencana perjalanan dua hari ke Bali dengan biaya relatif terjangkau yang bisa dijadikan inspirasi.

Baca juga: Itinerary 2 Hari 1 Malam di Ubud Bali, Cocok untuk Penyembuhan

Hari pertama di Bali

Makan siang nasi jinggo

Dok. Shutterstock/antoshkaphoto Ilustrasi nasi jinggo.

Setibanya di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, wisatawan bisa menyewa motor untuk menghemat biaya transportasi selama di Pulau Dewata dengan harga sekitar Rp 50.000 sampai Rp 70.000 per hari.

“Biasanya di bandara banyak yang sewain motor, tapi lebih enak pemesanan (memesan) dari jauh hari secara on line (daring),” jelas Direktur CV Private Tour Guide Bali, Andre Detrix Pearce, kepada Kompas.comMinggu (17/7/2022).

Jika tiba di Bali pada siang hari, wisatawan bisa makan nasi jinggo terlebih dahulu. Terdapat banyak penjual makanan khas tersebut, sehingga wisatawan bisa memilih.

Adapun penjual nasi jinggo jamak ditemui di beberapa tempat, seperti di kawasan Kuta, Denpasar, Jalan Diponegoro, dan di dekat daerah Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

“Harga cuma Rp 5.000 per bungkus. Beli dua bungkus sudah kenyang. Lauknya beragam, ada ayam, ikan, telur, udang, dan lain-lain,” kata Andre.

Baca juga: Itinerary 2 Hari 1 Malam di Ubud Bali, Cocok untuk Penyembuhan

Kemah di Kintamani

Penginapan konsep camping di KintamaniDok. Andre Detrix Pearce Penginapan konsep camping di Kintamani

Usai santap siang, wisatwan bisa langsung meluncur ke Kintamani. Jaraknya dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekitar 68 kilometer (km), dengan waktu tempuh kira-kira dua jam jika naik kendaraan.

Sepanjang perjalanan, wisatawan dapat menikmati suasana khas Bali.

Sampai di Kintamani, wisatawan bisa berkemah dengan suasana alam. Biaya sewa tenda sekitar Rp 110.000 per malam.

“Pagi setiap hari bisa melihat (pemandangan) yang bagus. Biasanya pagi hari bisa melihat lautan awan,” tuturnya.

Sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya, wisatawan bisa sarapan nasi kuning dulu yang banyak dijajakan di sekitaran lokasi berkemah (kemah).

“Sarapan pagi bisa beli nasi kuning, harga cuma Rp 7.000 sampai Rp 10.000 per porsi sudah kenyang,” katanya.

Baca juga: 7 Wisata di Bali Saat Hari Suci Galungan, Bisa Lihat Suasana Pura

Hari kedua di Bali

Berburu foto di Desa Penglipuran

Ilustrasi wisatawan di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali.Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ilustrasi wisatawan di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali.

Dari Kintamani, wisatawan bisa jalan-jalan ke daerah Ubud, tepatnya di Desa Penglipuran. Jaraknya 23 km sedangkan waktu tempuh dengan naik kendaraan sekitar 30 menit.

Desa Penglipuran merupakan salah satu desa terbersih di dunia, jadi wisatawan yang datang juga wajib menjaga kebersihan.

“Harga tiket masuk hanya Rp 20.000 per orang. Di sini wisatawan bisa menikmati suasana Bali banget,” ujar Andre.

Jika ingin berfoto dengan baju adat Bali, wisatawan bisa menyewa dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 100.000.

Wisatawan dapat berburu foto di sudut-sudut Desa Penglipuran yang bangunannya didominasi arsitektur tradisional Bali dengan ukiran-ukiran nan detail.

Baca juga: AirAsia Kembali Layani Rute Bali-Perth PP per 15 Mei 2022

Main ke Air Terjun Leke Leke

Air Terjun Leke LekeDok. Andre Detrix Pearce Air Terjun Leke Leke

Puas foto-foto ala masyarakat Bali, wisatawan bisa mampir ke Air Terjun Leke Leke yang ada di daerah Tabanan.

Pemandangan yang ditawarkan tidak kalah unik karena air terjunnya tampak diapit oleh tebing yang ditumbuhi tanaman.

Bagian aliran air terjun membentuk sebuah kolam yang ujung jernih, dan kerap utuk main air atau berenang.

“Biasanya banyak bule yang suka bikin konten di sini. Tiket masuknya cuma Rp 20.000 per orang,” ujar Andre.

Dari Desa Penglipuran menuju ke Air Terjun Leke Leke jaraknya sekitar 60 km. Bisa ditempuh naik kendaraan dalam waktu sekitar dua jam.

Baca juga: 4 Taman Bunga Gemitir di Bali, Bisa buat Tempat Foto Instagramable

Main ke Monkey Forest Ubud

Ilustrasi monyet di Sangeh Monkey Forest.DOK. Arda Savasciogullari dari Shutterstock. Ilustrasi monyet di Sangeh Monkey Forest.

Tempat wisata selanjutnya yang dikunjungi adalah Monkey Forest di Ubud. Setiap orang dikenai biaya masuk sebesar Rp 60.000.

“Di sini banyak monyet pembohong dan wisatawan bisa selfie (berswafoto) dengan mereka,” kata Andre.

Selagi di kawasan Monkey Forest, wisatawan berada juga bisa mampir ke Pasar Seni Ubud karena jaraknya hanya 1,6 km.

“Pasar Seni Ubud adalah pusatnya seni dan budaya. Mampir ke sini dijamin akan memanjakan mata,” ujarnya.

“Banyak juga pernak-pernik khas Bali yang dijual dengan harga yang terjangkau,” tambahnya.

Baca juga: 15 Wisata Ubud Bali dan Sekitarnya, Kaya Akan Budaya dan Alam

Lihat matahari terbenam di Bukit Campuhan

Pemandangan alam khas Bali di Bukit Campuhan, Gianyar, BaliDOK. SHUTTERSTOCK Pemandangan alam khas Bali di Bukit Campuhan, Gianyar, Bali

Sore setiap hari, wisatawan bisa menuju ke Bukit Campuhan untuk melihat pemandangan matahari terbenam atau matahari terbenam. Dari Pasar Seni Ubud, jaraknya sekitar 1,5 km dengan durasi hampir 10 menit.

Masuk ke Bukit Campuhan tidak dipungut biaya, jadi tidak ada tiket masuk maupun biaya parkir.

Pemandangan yang ditawarkan juga sayang dilewatkan. Banyak ilalang yang tumbuh di area ini, sehingga tampak Sayabisa di instagram dan cocok buat tempat berswafoto.

Selesai menikmati pemandangan matahari tenggelam di Bukit Campuhan, wisatawan bisa menyewa homestay di Ubud dengan biaya terjangkau.

“Terakhir, wisatawan bisa pilih penginapan atau homestay yang ada di Ubud, kisaran harga Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per malam,” kata Andre.

Baca juga: 20 Vila Murah di Bali, Harga di Bawah Rp 500.000 per Malam

Hari ketiga di Bali

Wisata ke Serayu Pot & Terracotta dan Tegallalang Rice Terrace

Pot Serayu & TerakotaDok. Andre Detrix Pearce Pot Serayu & Terakota

Pada hari ketiga atau hari terakhir di Bali, wisatawan bisa berkunjung ke Serayu Pot & Terracotta yang ada di Ubud. Jika dari Bukit Campuhan, maka jaraknya 2,9 km dengan waktu tempuh kira-kira 20 menit.

“Ini salah satu titik viral yg ada di Ubud, di mana wisatawan bisa berfoto dengan Latar Belakang (latar) pot atau guci warna-warni,” tutur Andre.

Jika masih ingin berburu foto dan ada bujet lebih, wisatawan bisa mampir ke Teras Sawah Tegallalang yang berjarak sekitar sembilan km atau hampir 25 menit berkendara dari Serayu Pot & Terracotta.

Tegallalang Rice Terrace menawarkan pemandangan pemandangan sawah berupa undakan-undakan atau terasering yang unik.

“Biaya masuk ke Tegallalang Rice Terrace adalah Rp 20.000 per orang, sedangkan untuk Serayu Pot sukarela,” ucap Andre.

Baca juga: Bali Ditargetkan Jadi Tempat Kerja untuk Digital Nomad

menikmati matahari terbenam di Pantai Kuta

menikmati matahari terbenam (sunset) di Pantai Kuta, Bali, Rabu (17/5/2017).KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA menikmati matahari terbenam (sunset) di Pantai Kuta, Bali, Rabu (17/5/2017).

Sebelum kembali ke kota asal, bila wisatawan masih punya waktu tambahan, mereka bisa mampir ke Pantai Kuta sebelum melanjutkan ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Di pantai ini, mereka dapat menikmati pemandangan matahari terbenam saat sakit hari.

Sambil menikmati pemandangan tersebut, wisatawan dapat menikmati foto-foto sebelum benar-benar meninggalkan Bali dan menyudahi acara liburan.

Jaraknya dari Teras Sawah Tegallalang menuju Pantai Kuta sekitar 47 km dengan durasi berkendara kira-kira 1,5 jam.

Dari Pantai Kuta, wisatawan bisa langsung menuju ke bandara dengan jarak 8,5 km dan waktu tempuh hampir 20 menit.

Dapatkan pembaruan berita pilihan dan berita terkini setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus menginstal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.